Rabu, 08 November 2017

Resume Diskusi Editing Naskah/Tulisan bersama Darma Eka Saputra

Rabu, 8 November 2017 pukul 20.00 WIB adalah waktu dan tanggal yang sudah saya tandai di Google Calendar.
Karena pada saat itu kelas Enrichment Bunda Sayang sudah menjadwalkan kedatangan guru tamu untuk mendampingi kami belajar mengenai Editing Naskah/Tulisan.

Namun, qaddarullah ketika saat yang dinantikan tiba rumah kami hampir kebanjiran ditengah-tengah hujan yang begitu lebat disertai angin besar.
Maka kami pun harus keluar rumah untuk melancarkan saluran air.

Tetapi, ketika membuka Whatsapp Grup saya masih dapat menikmati sisa-sisa diskusi dengan narasumber seorang Professional Editor, Bapak Darma Eka Saputra.

Diskusi tersebut cukup menohok.
Apalagi bagi saya yang selama ini seringkali salah kaprah dalam menggunakan kaidah EYD, atau EBI (Ejaan Bahasa Indonesia) yang tepat.
Padahal menurut Pak Darma, kriteria suatu naskah yang layak baca itu adalah
1. Sesuai dengan kaidah EBI
2. Kalimat-kalimatnya efektif dan enak dibaca.
Merupakan tugas editor memastikan dua hal tersebut.

Menjadi seorang editor dituntut untuk memiliki tingkat ketelitian dan kesabaran yang cukup tinggi.
Karena dalam menggarap naskah yang bisa sampai ratusan halaman itu, seorang editor harus memperhatikan sampai ke titik komanya.

Selain itu, untuk menjadi seorang editor insting berbahasanya harus bagus.
Menurut beliau ini bisa diasah dengan banyak membaca buku-buku dari penerbit mayor yang notabene editannya bagus.
Selain membaca, menulis dan mempublikasikan tulisan tersebut juga merupakan hal yang penting dilakukan.
Tapi, dalam menulis pun harus menentukan target marketnya. Menulis dengan bahasa yang sesuai target pembaca.
Menggunakan bahasa yang tidak baku pun boleh, asal sesuai kaidah EBI.

Setelah melakukan latihan yang konsisten, hasil akhirnya tetap akan berbeda pada setiap orang dalam kecepatan mengedit naskah.
Ada yang mampu memyelesaikan 20 halaman A4 dalam 8 jam, ada yang hanya bisa 10 halaman saja.
Pak Darma sendiri, yang fokus pada editing buku-buku terjemahan dengan tema kepemimpinan dan pengembangan diri yang tebalnya 200-300 halaman. Ini bisa beliau selesaikan sekitar 3-4 minggu.

Dari diskusi ini saya baru mengetahui bahwa seorang editor memiliki tanggung jawab mengolah kalimat agar naskah keseluruhan itu runut, nyambung dan tidak bertele-tele namun tidak mengubah makna atau tujuan tulisan.
Diperlukan komunikasi intens dengan penulisnya untuk memastikan hal ini.

Dan ternyata menurut Pak Darma, semua orang bisa jadi editor lho. Asal paham dan menguasai kaidah EBI.
Nah, ini yang cukup menantang.
Dalam hal ini ada dua buku yang direkomendasikan oleh Pak Darma, KBBI dan Thesaurus.
Begitulah kira-kira hasil diskusi yang ditutup dengan closing statement dari Pak Darma, “Banyak baca, banyak nulis”.

By the way, dari tadi bahas EBI kok jadi lapar ya? Hahaha.