Masih tentang memfasilitasi Ibu-ibu pembelajar dari kelas Bunda Sayang Offline Institut Ibu Profesional Batch #3.
Ditempat yang sama, pada hari yang berbeda.
Kampoeng Tulip, Ciwastra.
Bersama peserta perkuliahan kelas weekend hari Sabtu, 06 Januari 2018.
Bersama peserta perkuliahan kelas weekday hari Selasa, 09 Januari 2018.
Dengan materi yang sama: Meningkatkan Kecerdasan Anak.
Memfasilitasi kelas Offline, merupakan booster energi tersendiri bagi saya yang senang bertemu dan mengenal banyak orang dengan karakter berbeda.
Meskipun raga kadang terasa lelah, tapi lain dengan jiwa. Full recharged!
Pembahasan yang paling menarik dalam dua hari ini adalah tentang Family Project, sebagai tantangan sepuluh hari yang harus dilaksanakan oleh peserta kuliah Bunsay ini.
Berbagi ide dan pengalaman rupanya lebih mudah dicerna oleh Ibu-ibu macam kami, daripada dijejal dengan banyak teori ๐๐
(Bersambung)
The Sugar
๐ค Branding ๐Beauty ๐Parenting ๐บ Film
Jumat, 26 Januari 2018
Sabtu, 02 Desember 2017
Mentransformasi Ilmu Komunikasi Produktif, yang merupakan materi pertama dari kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional bersama emak-emak pembelajar itu Masya Allah..
Energinya mereka luar biasa, sampai bisa jadi power bank buat yang lain.
Sebagai fasilitator yang mendampingi mereka belajar, saya sungguh takjub.
Karena secara empiris dan akademis, saya rasa mereka tidak perlu mengikuti kelas semacam ini.
Tapi mereka selalu siap mengosongkan gelas.
Sukaaa banget sama kalimat,
"Semua adalah guru, semua adalah murid"
Itu siapa yang bikin sih? Kok, kece.
Bikin saya nyaman ngomong ngalor ngidul bahas materi meskipun ada selingan iklan dari Fannan dan Phily yang meminta haknya.
Untuk teh Ismi dan teh Shofi yang udah nyusun modul terbaiks. Kalian memang masternya kelas Offline ๐๐
By the way, emang bisa kondusif ya belajar sambil bawa anak?
Bisa, kalo kitanya mau.
Nilai plusnya, bisa praktek langsung ilmu yang sedang didiskusikan.
(Pertemuan perdana Kelas Bunda Sayang Batch #3 Offline Bandung)
Energinya mereka luar biasa, sampai bisa jadi power bank buat yang lain.
Sebagai fasilitator yang mendampingi mereka belajar, saya sungguh takjub.
Karena secara empiris dan akademis, saya rasa mereka tidak perlu mengikuti kelas semacam ini.
Tapi mereka selalu siap mengosongkan gelas.
Sukaaa banget sama kalimat,
"Semua adalah guru, semua adalah murid"
Itu siapa yang bikin sih? Kok, kece.
Bikin saya nyaman ngomong ngalor ngidul bahas materi meskipun ada selingan iklan dari Fannan dan Phily yang meminta haknya.
Untuk teh Ismi dan teh Shofi yang udah nyusun modul terbaiks. Kalian memang masternya kelas Offline ๐๐
By the way, emang bisa kondusif ya belajar sambil bawa anak?
Bisa, kalo kitanya mau.
Nilai plusnya, bisa praktek langsung ilmu yang sedang didiskusikan.
(Pertemuan perdana Kelas Bunda Sayang Batch #3 Offline Bandung)
Rabu, 08 November 2017
Resume Diskusi Editing Naskah/Tulisan bersama Darma Eka Saputra
Rabu, 8 November 2017 pukul 20.00 WIB adalah waktu dan tanggal yang sudah saya tandai di Google Calendar.
Karena pada saat itu kelas Enrichment Bunda Sayang sudah menjadwalkan kedatangan guru tamu untuk mendampingi kami belajar mengenai Editing Naskah/Tulisan.
Namun, qaddarullah ketika saat yang dinantikan tiba rumah kami hampir kebanjiran ditengah-tengah hujan yang begitu lebat disertai angin besar.
Maka kami pun harus keluar rumah untuk melancarkan saluran air.
Tetapi, ketika membuka Whatsapp Grup saya masih dapat menikmati sisa-sisa diskusi dengan narasumber seorang Professional Editor, Bapak Darma Eka Saputra.
Diskusi tersebut cukup menohok.
Apalagi bagi saya yang selama ini seringkali salah kaprah dalam menggunakan kaidah EYD, atau EBI (Ejaan Bahasa Indonesia) yang tepat.
Padahal menurut Pak Darma, kriteria suatu naskah yang layak baca itu adalah
1. Sesuai dengan kaidah EBI
2. Kalimat-kalimatnya efektif dan enak dibaca.
Merupakan tugas editor memastikan dua hal tersebut.
Menjadi seorang editor dituntut untuk memiliki tingkat ketelitian dan kesabaran yang cukup tinggi.
Karena dalam menggarap naskah yang bisa sampai ratusan halaman itu, seorang editor harus memperhatikan sampai ke titik komanya.
Selain itu, untuk menjadi seorang editor insting berbahasanya harus bagus.
Menurut beliau ini bisa diasah dengan banyak membaca buku-buku dari penerbit mayor yang notabene editannya bagus.
Selain membaca, menulis dan mempublikasikan tulisan tersebut juga merupakan hal yang penting dilakukan.
Tapi, dalam menulis pun harus menentukan target marketnya. Menulis dengan bahasa yang sesuai target pembaca.
Menggunakan bahasa yang tidak baku pun boleh, asal sesuai kaidah EBI.
Setelah melakukan latihan yang konsisten, hasil akhirnya tetap akan berbeda pada setiap orang dalam kecepatan mengedit naskah.
Ada yang mampu memyelesaikan 20 halaman A4 dalam 8 jam, ada yang hanya bisa 10 halaman saja.
Pak Darma sendiri, yang fokus pada editing buku-buku terjemahan dengan tema kepemimpinan dan pengembangan diri yang tebalnya 200-300 halaman. Ini bisa beliau selesaikan sekitar 3-4 minggu.
Dari diskusi ini saya baru mengetahui bahwa seorang editor memiliki tanggung jawab mengolah kalimat agar naskah keseluruhan itu runut, nyambung dan tidak bertele-tele namun tidak mengubah makna atau tujuan tulisan.
Diperlukan komunikasi intens dengan penulisnya untuk memastikan hal ini.
Dan ternyata menurut Pak Darma, semua orang bisa jadi editor lho. Asal paham dan menguasai kaidah EBI.
Nah, ini yang cukup menantang.
Dalam hal ini ada dua buku yang direkomendasikan oleh Pak Darma, KBBI dan Thesaurus.
Begitulah kira-kira hasil diskusi yang ditutup dengan closing statement dari Pak Darma, “Banyak baca, banyak nulis”.
By the way, dari tadi bahas EBI kok jadi lapar ya? Hahaha.
Karena pada saat itu kelas Enrichment Bunda Sayang sudah menjadwalkan kedatangan guru tamu untuk mendampingi kami belajar mengenai Editing Naskah/Tulisan.
Namun, qaddarullah ketika saat yang dinantikan tiba rumah kami hampir kebanjiran ditengah-tengah hujan yang begitu lebat disertai angin besar.
Maka kami pun harus keluar rumah untuk melancarkan saluran air.
Tetapi, ketika membuka Whatsapp Grup saya masih dapat menikmati sisa-sisa diskusi dengan narasumber seorang Professional Editor, Bapak Darma Eka Saputra.
Diskusi tersebut cukup menohok.
Apalagi bagi saya yang selama ini seringkali salah kaprah dalam menggunakan kaidah EYD, atau EBI (Ejaan Bahasa Indonesia) yang tepat.
Padahal menurut Pak Darma, kriteria suatu naskah yang layak baca itu adalah
1. Sesuai dengan kaidah EBI
2. Kalimat-kalimatnya efektif dan enak dibaca.
Merupakan tugas editor memastikan dua hal tersebut.
Menjadi seorang editor dituntut untuk memiliki tingkat ketelitian dan kesabaran yang cukup tinggi.
Karena dalam menggarap naskah yang bisa sampai ratusan halaman itu, seorang editor harus memperhatikan sampai ke titik komanya.
Selain itu, untuk menjadi seorang editor insting berbahasanya harus bagus.
Menurut beliau ini bisa diasah dengan banyak membaca buku-buku dari penerbit mayor yang notabene editannya bagus.
Selain membaca, menulis dan mempublikasikan tulisan tersebut juga merupakan hal yang penting dilakukan.
Tapi, dalam menulis pun harus menentukan target marketnya. Menulis dengan bahasa yang sesuai target pembaca.
Menggunakan bahasa yang tidak baku pun boleh, asal sesuai kaidah EBI.
Setelah melakukan latihan yang konsisten, hasil akhirnya tetap akan berbeda pada setiap orang dalam kecepatan mengedit naskah.
Ada yang mampu memyelesaikan 20 halaman A4 dalam 8 jam, ada yang hanya bisa 10 halaman saja.
Pak Darma sendiri, yang fokus pada editing buku-buku terjemahan dengan tema kepemimpinan dan pengembangan diri yang tebalnya 200-300 halaman. Ini bisa beliau selesaikan sekitar 3-4 minggu.
Dari diskusi ini saya baru mengetahui bahwa seorang editor memiliki tanggung jawab mengolah kalimat agar naskah keseluruhan itu runut, nyambung dan tidak bertele-tele namun tidak mengubah makna atau tujuan tulisan.
Diperlukan komunikasi intens dengan penulisnya untuk memastikan hal ini.
Dan ternyata menurut Pak Darma, semua orang bisa jadi editor lho. Asal paham dan menguasai kaidah EBI.
Nah, ini yang cukup menantang.
Dalam hal ini ada dua buku yang direkomendasikan oleh Pak Darma, KBBI dan Thesaurus.
Begitulah kira-kira hasil diskusi yang ditutup dengan closing statement dari Pak Darma, “Banyak baca, banyak nulis”.
By the way, dari tadi bahas EBI kok jadi lapar ya? Hahaha.
Rabu, 15 Maret 2017
Aliran Rasa Melatih Kemandirian
Melatih Kemandirian anak sejak dini sangat penting untuk dilakukan.
Namun kita sebagai orang tua yang terkadang atas nama "kasih sayang" ingin membantu anak dalam segala aktifitasnya.
Anak makan, kita suapi.
Anak mandi, kita siram dan sabuni.
Anak memakai sepatu, kita bantu menyimpul talinya.
Anak bermain, kita yang bereskan mainannya.
Anak terjatuh (yang tidak terlalu beresiko) kita langsung panik dan menggendongnya.
Dan jenis "kasih sayang" lainnya yang tanpa kita sadari membentuk anak menjadi pribadi yang tidak mandiri.
Anak yang mandiri akan tumbuh menjadi anak yang percaya diri.
Anak yang percaya diri sudah pasti pemberani.
Pernah dengar anak yang manja itu mayoritas jadi objek pembully-an?
Ini lebih berbahaya lagi.
Bullying itu menular. Sekali anak jadi korban bullying, maka besar kemungkinan dia akan menjadi pelaku bullying juga.
Kembali pada kemandirian anak.
Membantu anak dalam melakukan segala aktifitasnya itu dapat menghambat instingnya untuk mandiri.
Daripada membantunya, lebih baik kita melatih skill mereka dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
Mulai dari makan hingga memasak.
Mulai dari mandi hingga mencuci.
Mulai dari memakai sepatu kemudian merapikannya lagi.
Biarkan anak belajar melakukannya sendiri. Kita yang jadi coachnya.
Berikan latihan yang cocok dengan usianya, dan berikan penjelasan untuk tetap meminta ijin terlebih dahulu jika akan melakukan sesuatu yang perlu pengawasan orangtua (misalnya menyetrika atau menyalakan kompor).
Harap tahan keinginan kita yang kadang terburu-buru ingin membantunya.
Harap tahan juga kekesalan kita ketika sedang terburu-buru untuk pergi, lalu anak masih berusaha mengikat tali sepatu misalnya.
Amati, arahkan dan berikan pujian (yang jelas) setelahnya "Alhamdulillah, anak Ibu sudah bisa pakai sepatu sendiri".
Jika kita konsisten dalam melatihnya, anak akan terbiasa untuk mandiri.
Bahkan kadang tanpa kita sadari, keinginan mereka untuk melakukan segala sesuatu sendiri menjadi lebih kuat daripada sebelumnya.
Tapi, jangan terpaku pada hasil dan menuntut kesempurnaan. Yang perlu kita hargai dalam melatih kemandirian anak adalah setiap prosesnya.
Terakhir, berikan teladan yang baik.
Bagaimana kita berharap anak kita akan tumbuh menjadi anak yang mandiri sedangkan kita sebagai orangtua masih sangat bergantung pada orang lain?
Bukankah standar kemandirian seseorang dalam melakukan aktifitasnya itu tidak bergantung pada siapapun? (kecuali pada Allah saja)
Bersyukur dipertemukan dengan rekan-rekan yang hebat di Institut Profesional, yang bersama-sama sedang berproses untuk menjadi Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga.
Akhirnya level dua "Melatih Kemandirian" ini bisa saya jalani dengan lapang...
(Aliran rasa di pekan ketiga level-2 kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional, "Melatih Kemandirian").
Sabtu, 11 Maret 2017
Yuuk makan jagung
Hari ini anak-anak mengatakan ingin makan jagung.
Kebetulan di rumah tidak ada stok jagung. Begitupun di warung.
Mereka terlihat sedikit kecewa.
Saat kami pergi kerumah neneknya, qaddarullah ada tukang jagung yang lewat. Tapi jagungnya masih mentah.
Saya berikan pilihan pada fannan dan phily, mau beli jagung mentah dimasak sendiri atau ga usah beli?
Mereka menjawab "Masak sendiriiiiii!!"
Kamipun membeli beberapa buah jagung.
Fannan menyiapkan panci, phily menuangkan air meskipun masih "awur-awuran".
Dan saya menyalakan kompornya.
Kamipun merebus jagung..
Setelah jagungnya matang, anak-anak mengipas jagung tersebut supaya cepat dingin. Awalnya minta dikipaskan, namun akhirnya mau mengipas sendiri.
Kemudian mereka saya arahkan untuk mengupas jagung.
Awalnya phily terlihat geli memegang rambut jagung, tapi setelah saya ajak mengupas jagung sambil bernyanyi, diapun tak keberatan lagi mengupas jagung sendiri..
Tetap Mandiri Saat Sakit
Setelah menjalani praktek Melatih Kemandirian secara intense dua pekan ini, saya melihat progress yang signifikan pada Fannan dan Phily.
Phily yang biasanya tidak mau saya tinggal sedetikpun, saat ini berangsur "legowo" melepas saya ke kamar mandi.
Dua pekan ini saya lebih fokus dalam melatih Phily merapikan mainan, makan sendiri dan merapikan buku (bisa sampe sepuluh kali sehari dia minta dibacain buku ๐
).
Fannan saya fokuskan pada skill mengolah makanan sendiri.
Untuk skill ini, sejak Fannan berusia satu tahun saya sudah mulai melakukan pendekatan.
Dari memotong bahan makanan sampai memasukkannya ke penggorengan bisa Fannan lakukan.
Namun latihannya terhenti saat Phily lahir, saya keteteran dan terserang virus "malas" wehehehe.
Hari ini Fannan demam. Saya menawarkan diri untuk mengompresnya dengan air hangat lalu dia menjawab "Bu, kompresnya jangan di ketiak yaa di mata aja biar mata Fannannya seger" (yaa senyamanmu lah, Nak).
Selang beberapa jam:
Fannan: "Bu, Fannan laper. Pengen makan sosis tapi Fannan yang gorengnya yaa."
Saya: "Fannan kan lagi sakit, ga lemes?"
Fannan: "Kan kemarin Ibu bilangnya ke Fannan teh kalo mau makan harus bantu Ibu bikin makanannya".
Saya: "Iya, tapi kalo lagi sakit mah ga apa-apa Ibu yang buatin".
Fannan: "Ah Ibu mah!" (dengan nada kecewa).
Saya: "Yaudah Fannan bantu motong sosisnya aja biar Ibu sama Phily yang gorengin, gimana?"
Fannan: "Iya boleh".
Penting untuk menjaga konsistensi, tanpa meng-cut keinginan anak untuk dapat melakukan aktifitasnya sendiri meskipun saat dia sakit.
Jumat, 10 Maret 2017
Out Fit of The Day
Hari ini anak-anak sangat bersemangat berlatih kemandirian sepertinya.
Dari bangun tidur ingin melakukan segala aktifitasnya sendiri.
Mulai dari makan, mandi, memilih pakaian.
Fannan hari ini memilih baju warna biru tua dan celana jogger. Dipadukan topi warna cream dan sarung tangan hitam.
Saya tanya, "Fannan ko pakai sarung tangan?"
Dia jawab: "Biar keren buu".
Sayangnya sulit sekali saya memintanya untuk memakai yang sebelah lagi.
Padahal dalam hadits dikatakan jika ingin pakai pakai keduanya.
Phily memilih kaos panjang garis-garis berwarna pink, legging abu dan kerudung abu.
Phily pun keukeuh ingin tetap menggunakan topi di atas kerudung ๐๐
Oke. Ingat lagi pada kalimat "jangan menuntut kesempurnaan".
Setelah melalui beberapa pelan latihan kemandirian, anak-anak memang terlihat lebih mandiri..
Langganan:
Komentar (Atom)