Komunikasi adalah hal yang tak pernah sedetikpun bisa lepas dari diri manusia. Sejak kita lahir, hal pertama yang dilakukan adalah menangis bukan? Iya, menangis!
Menangis adalah salah satu bentuk komunikasi yang pada umumnya dilakukan oleh bayi baru lahir.
Ketika lapar, bayi menangis. Ketika haus, bayi menangis. Ketika merasa sakit ataupun tidak nyaman, bayi menangis. Apapun yang bayi inginkan, mereka akan menangis.
Seiring berjalannya waktu, bayi akan tumbuh menjadi seorang balita kritis yang sering melontarkan pertanyaan. Dari mulai "Apa ni?" Sampai "Bu, kenapa Ibu nangis?" Atau "Bu, buat apa sih kita shalat?"
Para balita itupun kadang senang mengekspresikan perasaan mereka dengan bahasa komunikasi yang unik. Misalnya tantrum. Hehehe
Menginjak remaja cara mereka berkomunikasi semakin variatif, bahasa cinta mereka semakin sulit dimengerti. Sebagian orang tua kadang tertipu, mereka pikir anak mereka nakal padahal mungkin itu cara mengkomunikasikan bahwa mereka ingin diperhatikan.
Setelah dewasa dan memiliki pasangan, cara manusia berkomunikasi bertambah cabangnya. Disini kadang muncul komunikasi paling horror yaitu diam. Iya, diampun adalah bentuk komunikasi. Saat dimana seseorang ingin mengatakan bahwa dirinya sedang sangat marah atau bahkan sudah terlalu lelah dengan suatu permasalahan, maka ada yang mengkomunikasikannya dengan diam.
Lalu, apakah semua bentuk komunikasi yang dilakukan oleh manusia itu bisa dibenarkan? Tentu saja tidak. Apalagi saat berkomunikasi dengan keluarga, sebuah organisasi terkecil yang kelak akan dimintai Laporan Pertanggung Jawabannya di akhirat sana, kita harus berkomunikasi dengan baik.
Maka saya merasa sangat beruntung bisa bergabung dengan Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional. Materi pertama yang saya dapat adalah mengenai Komunikasi Produktif. Alhamdulillah, materi ini datang di saat yang tepat!
Materi ini disajikan saat saya dihadapkan dengan peran sebagai seorang individu yang merupakan istri dari seorang suami yang bersamanya saya memiliki dua orang buah cinta yang selalu kami upayakan agar menjadi anak yang shaleh dan shaleha.
Menikah adalah hal yang mudah. Namun mempertahankan pernikahan adalah hal yang sangat menantang.
Bertemu dengan orang yaang sama setiap hari, ada tuntutan untuk berbicara mengenai banyak hal dengannya meskipun terkadang sedang tidak ingin. Ada masa depan yang harus dibangun, ada anak-anak yang harus dididik, ada syurga yang harus digapai.
Lalu saat berbicara, feedbacknya tidak sesuai harapan. Bagaimana rasanya? Jleb sekaliiiiii!
Kemudian anak. Hal tersulit dalam menjaga amanah ini bukanlah saat mengandungnya selama sembilan bulan, ataupun melahirkannya dengan mempertaruhkan jiwa dan raga.
Hal tersulit dalam "memiliki" amanah ini adalah mendidiknya.
Pendidikan dan kurikulum terbaik yang sudah disiapkan pun tidak akan bisa dijalankan dengan baik jika komunikasi antara pemberi pesan (orang tua) dan penerima pesan (anak) tidak berjalan dengan lancar.
Dan untuk semua itu diperlukan kontrol emosi yang baik, dimulai dari mengkomunikasikan hal-hal positif pada diri kita sendiri. Percaya bahwa kita bisa, hal-hal sulit adalah menarik dan semua masalah adalah tantangan yang menyenangkan.
Setelah mengikuti dan mempraktekkan komunikasi produktif dalam kehidupan sehari-hari, akhirnya saya paham bagaimana cara berkomunikasi yang baik dengan diri sendiri, pasangan maupun anak. Meskipun dalam prakteknya butuh tekad dan latihan yang sangat keras namun saya tidak akan menyerah karena kebiasaan baik itu perlu pembiasaan.
Pada akhirnya sayapun paham bahwa komunikasi produktif membuat kita lebih mudah dalam mengutarakan sesuatu, memperjelas maksud dan memperbesar kemungkinan keberhasilan komunikasi itu sendiri. Karena tanpa harus berteriak, anak akan mendengar. Tanpa harus mengomel, suami akan paham, dan tanpa harus mengeluarkan banyak tenaga (untuk marah-marah) seorang wanita akan lebih mengelola emosinya.
Maka dapat saya katakan bahwa komunikasi produktif adalah bahasa cinta. Dalam hal ini, bahasa cinta keluarga..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar