Senin, 27 Februari 2017

Sabar nak, bicaralah baik-baik.

"Bu baca buku enihhhhhh". Teriak phily yang kemudian menghampiri saya sambil membawa buku terbitan Sygma Publishing yang berjudul Tebak Siapakah Aku, seri favoritnya yang saya beli dari teh Elin Shabira beberapa bulan yang lalu.

Saya yang saat itu sedang mengerjakan sesuatu di dapur menjawab "Oke sayang, tunggu yaa Ibu selesein ini dulu."
Phily menggeleng "Engga."
Saya menjawab "Sabar, sedikit lagi"
Phily mulai berteriak sambil melempar buku tersebut "Enggaaaa engaaaa gaaa gaa".
Lalu mulai tantrum, menangis sambil menjatuhkan tubuh di lantai dapur ala-ala tentara yang sedang tiarap.

Saya cuek saja sambil menyelesaikan pekerjaan dapur.
Tangisan Phily semakin keras. Saya tetap pada pendirian, tidak bergeming sedikitpun. Beberapa menit kemudian tangisnya mereda meskipun masih sedikit dia improvisasi.

Setelah saya selesai dengan pekerjaan saya, saya hampiri dia dan berkata "Phily mau baca? Ibu kan tadi bilang sabar dulu, tunggu Ibu selesai."
 Phily masih sesegukan "Baca buu".
"Iya hayu baca. Lain kali kalo pengen sesuatu, ngomong baik-baik yaa." Saya memeluk dan mengusap kepalanya.
"Mbuu maaf yaa, maaf" Ucap mulut mungilnya.

Selang beberapa jam.
Fannan: "Mbuuuu mau teh manis".
Saya: "Sini sayang kita bikin bareng-bareng".
Fannan: "Engga mau, sama Ibu ajaa!" (Sedikit membentak)
Saya: "Fannan, sini. Bikin bareng-bareng atau ga ada teh manis".
Fannan: (Sambil manyun) "Ga mauu, bikinnya sama Ibu aja, sendirian".
Saya: "Oke, bye-bye teh manis".
Fannan: "Mbuuuu hayu atuh sama Fannan gulainnya".

Mengutip salah satu kalimat pada materi Melatih Kemandirian Anak di Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional.
"Di rumah ini, hanya yang berbicara baik-baik yang akan sukses mendapatkan apa yang diinginkannya".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar