Sabtu, 02 Desember 2017

Mentransformasi Ilmu Komunikasi Produktif, yang merupakan materi pertama dari kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional bersama emak-emak pembelajar itu Masya Allah..

Energinya mereka luar biasa, sampai bisa jadi power bank buat yang lain.

Sebagai fasilitator yang mendampingi mereka belajar, saya sungguh takjub.
Karena secara empiris dan akademis, saya rasa mereka tidak perlu mengikuti kelas semacam ini.
Tapi mereka selalu siap mengosongkan gelas.

Sukaaa banget sama kalimat,
"Semua adalah guru, semua adalah murid"
Itu siapa yang bikin sih? Kok, kece.
Bikin saya nyaman ngomong ngalor ngidul bahas materi meskipun ada selingan iklan dari Fannan dan Phily yang meminta haknya.

Untuk teh Ismi dan teh Shofi yang udah nyusun modul terbaiks. Kalian memang masternya kelas Offline ๐Ÿ‘๐Ÿ‘

By the way, emang bisa kondusif ya belajar sambil bawa anak?
Bisa, kalo kitanya mau.
Nilai plusnya, bisa praktek langsung ilmu yang sedang didiskusikan.

(Pertemuan perdana Kelas Bunda Sayang Batch #3 Offline Bandung)

Rabu, 08 November 2017

Resume Diskusi Editing Naskah/Tulisan bersama Darma Eka Saputra

Rabu, 8 November 2017 pukul 20.00 WIB adalah waktu dan tanggal yang sudah saya tandai di Google Calendar.
Karena pada saat itu kelas Enrichment Bunda Sayang sudah menjadwalkan kedatangan guru tamu untuk mendampingi kami belajar mengenai Editing Naskah/Tulisan.

Namun, qaddarullah ketika saat yang dinantikan tiba rumah kami hampir kebanjiran ditengah-tengah hujan yang begitu lebat disertai angin besar.
Maka kami pun harus keluar rumah untuk melancarkan saluran air.

Tetapi, ketika membuka Whatsapp Grup saya masih dapat menikmati sisa-sisa diskusi dengan narasumber seorang Professional Editor, Bapak Darma Eka Saputra.

Diskusi tersebut cukup menohok.
Apalagi bagi saya yang selama ini seringkali salah kaprah dalam menggunakan kaidah EYD, atau EBI (Ejaan Bahasa Indonesia) yang tepat.
Padahal menurut Pak Darma, kriteria suatu naskah yang layak baca itu adalah
1. Sesuai dengan kaidah EBI
2. Kalimat-kalimatnya efektif dan enak dibaca.
Merupakan tugas editor memastikan dua hal tersebut.

Menjadi seorang editor dituntut untuk memiliki tingkat ketelitian dan kesabaran yang cukup tinggi.
Karena dalam menggarap naskah yang bisa sampai ratusan halaman itu, seorang editor harus memperhatikan sampai ke titik komanya.

Selain itu, untuk menjadi seorang editor insting berbahasanya harus bagus.
Menurut beliau ini bisa diasah dengan banyak membaca buku-buku dari penerbit mayor yang notabene editannya bagus.
Selain membaca, menulis dan mempublikasikan tulisan tersebut juga merupakan hal yang penting dilakukan.
Tapi, dalam menulis pun harus menentukan target marketnya. Menulis dengan bahasa yang sesuai target pembaca.
Menggunakan bahasa yang tidak baku pun boleh, asal sesuai kaidah EBI.

Setelah melakukan latihan yang konsisten, hasil akhirnya tetap akan berbeda pada setiap orang dalam kecepatan mengedit naskah.
Ada yang mampu memyelesaikan 20 halaman A4 dalam 8 jam, ada yang hanya bisa 10 halaman saja.
Pak Darma sendiri, yang fokus pada editing buku-buku terjemahan dengan tema kepemimpinan dan pengembangan diri yang tebalnya 200-300 halaman. Ini bisa beliau selesaikan sekitar 3-4 minggu.

Dari diskusi ini saya baru mengetahui bahwa seorang editor memiliki tanggung jawab mengolah kalimat agar naskah keseluruhan itu runut, nyambung dan tidak bertele-tele namun tidak mengubah makna atau tujuan tulisan.
Diperlukan komunikasi intens dengan penulisnya untuk memastikan hal ini.

Dan ternyata menurut Pak Darma, semua orang bisa jadi editor lho. Asal paham dan menguasai kaidah EBI.
Nah, ini yang cukup menantang.
Dalam hal ini ada dua buku yang direkomendasikan oleh Pak Darma, KBBI dan Thesaurus.
Begitulah kira-kira hasil diskusi yang ditutup dengan closing statement dari Pak Darma, “Banyak baca, banyak nulis”.

By the way, dari tadi bahas EBI kok jadi lapar ya? Hahaha.

Rabu, 15 Maret 2017

Aliran Rasa Melatih Kemandirian

Melatih Kemandirian anak sejak dini sangat penting untuk dilakukan.
Namun kita sebagai orang tua yang terkadang atas nama "kasih sayang" ingin membantu anak dalam segala aktifitasnya.

Anak makan, kita suapi.
Anak mandi, kita siram dan sabuni.
Anak memakai sepatu, kita bantu menyimpul talinya.
Anak bermain, kita yang bereskan mainannya.
Anak terjatuh (yang tidak terlalu beresiko) kita langsung panik dan menggendongnya.
Dan jenis "kasih sayang" lainnya yang tanpa kita sadari membentuk anak menjadi pribadi yang tidak mandiri.

Anak yang mandiri akan tumbuh menjadi anak yang percaya diri.
Anak yang percaya diri sudah pasti pemberani.
Pernah dengar anak yang manja itu mayoritas jadi objek pembully-an?
Ini lebih berbahaya lagi.
Bullying itu menular. Sekali anak jadi korban bullying, maka besar kemungkinan dia akan menjadi pelaku bullying juga.

Kembali pada kemandirian anak.
Membantu anak dalam melakukan segala aktifitasnya itu dapat menghambat instingnya untuk mandiri.
Daripada membantunya, lebih baik kita melatih skill mereka dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
Mulai dari makan hingga memasak.
Mulai dari mandi hingga mencuci.
Mulai dari memakai sepatu kemudian merapikannya lagi.

Biarkan anak belajar melakukannya sendiri. Kita yang jadi coachnya.
Berikan latihan yang cocok dengan usianya, dan berikan penjelasan untuk tetap meminta ijin terlebih dahulu jika akan melakukan sesuatu yang perlu pengawasan orangtua (misalnya menyetrika atau menyalakan kompor).

Harap tahan keinginan kita yang kadang terburu-buru ingin membantunya.
Harap tahan juga kekesalan kita ketika sedang terburu-buru untuk pergi, lalu anak masih berusaha mengikat tali sepatu misalnya.
Amati, arahkan dan berikan pujian (yang jelas) setelahnya "Alhamdulillah, anak Ibu sudah bisa pakai sepatu sendiri".

Jika kita konsisten dalam melatihnya, anak akan terbiasa untuk mandiri.
Bahkan kadang tanpa kita sadari, keinginan mereka untuk melakukan segala sesuatu sendiri menjadi lebih kuat daripada sebelumnya.
Tapi, jangan terpaku pada hasil dan menuntut kesempurnaan. Yang perlu kita hargai dalam melatih kemandirian anak adalah setiap prosesnya.

Terakhir, berikan teladan yang baik.
Bagaimana kita berharap anak kita akan tumbuh menjadi anak yang mandiri sedangkan kita sebagai orangtua masih sangat bergantung pada orang lain?
Bukankah standar kemandirian seseorang dalam melakukan aktifitasnya itu tidak bergantung pada siapapun? (kecuali pada Allah saja)

Bersyukur dipertemukan dengan rekan-rekan yang hebat di Institut Profesional, yang bersama-sama sedang berproses untuk menjadi Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga.
Akhirnya level dua "Melatih Kemandirian" ini bisa saya jalani dengan lapang...

(Aliran rasa di pekan ketiga level-2 kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional, "Melatih Kemandirian").

Sabtu, 11 Maret 2017

Yuuk makan jagung

Hari ini anak-anak mengatakan ingin makan jagung.
Kebetulan di rumah tidak ada stok jagung. Begitupun di warung.
Mereka terlihat sedikit kecewa.

Saat kami pergi kerumah neneknya, qaddarullah ada tukang jagung yang lewat. Tapi jagungnya masih mentah.
Saya berikan pilihan pada fannan dan phily, mau beli jagung mentah dimasak sendiri atau ga usah beli?
Mereka menjawab "Masak sendiriiiiii!!"

Kamipun membeli beberapa buah jagung.
Fannan menyiapkan panci, phily menuangkan air meskipun masih "awur-awuran".
Dan saya menyalakan kompornya.
Kamipun merebus jagung..

Setelah jagungnya matang, anak-anak mengipas jagung tersebut supaya cepat dingin. Awalnya minta dikipaskan, namun akhirnya mau mengipas sendiri.

Kemudian mereka saya arahkan untuk mengupas jagung.
Awalnya phily terlihat geli memegang rambut jagung, tapi setelah saya ajak mengupas jagung sambil bernyanyi, diapun tak keberatan lagi mengupas jagung sendiri..

 

Tetap Mandiri Saat Sakit

Setelah menjalani praktek Melatih Kemandirian secara intense dua pekan ini, saya melihat progress yang signifikan pada Fannan dan Phily.

Phily yang biasanya tidak mau saya tinggal sedetikpun, saat ini berangsur "legowo" melepas saya ke kamar mandi.

Dua pekan ini saya lebih fokus dalam melatih Phily merapikan mainan, makan sendiri dan merapikan buku (bisa sampe sepuluh kali sehari dia minta dibacain buku ๐Ÿ˜…).

Fannan saya fokuskan pada skill mengolah makanan sendiri.
Untuk skill ini, sejak Fannan berusia satu tahun saya sudah mulai melakukan pendekatan.
Dari memotong bahan makanan sampai memasukkannya ke penggorengan bisa Fannan lakukan.
Namun latihannya terhenti saat Phily lahir, saya keteteran dan terserang virus "malas" wehehehe.

Hari ini Fannan demam. Saya menawarkan diri untuk mengompresnya dengan air hangat lalu dia menjawab "Bu, kompresnya jangan di ketiak yaa di mata aja biar mata Fannannya seger" (yaa senyamanmu lah, Nak).

Selang beberapa jam:
Fannan: "Bu, Fannan laper. Pengen makan sosis tapi Fannan yang gorengnya yaa."
Saya: "Fannan kan lagi sakit, ga lemes?"
Fannan: "Kan kemarin Ibu bilangnya ke Fannan teh kalo mau makan harus bantu Ibu bikin makanannya".
Saya: "Iya, tapi kalo lagi sakit mah ga apa-apa Ibu yang buatin".
Fannan: "Ah Ibu mah!" (dengan nada kecewa).
Saya: "Yaudah Fannan bantu motong sosisnya aja biar Ibu sama Phily yang gorengin, gimana?"
Fannan: "Iya boleh".

Penting untuk menjaga konsistensi, tanpa meng-cut keinginan anak untuk dapat melakukan aktifitasnya sendiri meskipun saat dia sakit.

 


Jumat, 10 Maret 2017

Out Fit of The Day

Hari ini anak-anak sangat bersemangat berlatih kemandirian sepertinya.
Dari bangun tidur ingin melakukan segala aktifitasnya sendiri.

Mulai dari makan, mandi, memilih pakaian.

Fannan hari ini memilih baju warna biru tua dan celana jogger. Dipadukan topi warna cream dan sarung tangan hitam.
Saya tanya, "Fannan ko pakai sarung tangan?"
Dia jawab: "Biar keren buu".
Sayangnya sulit sekali saya memintanya untuk memakai yang sebelah lagi.
Padahal dalam hadits dikatakan jika ingin pakai pakai keduanya.

 

Phily memilih kaos panjang garis-garis berwarna pink, legging abu dan kerudung abu.
Phily pun keukeuh ingin tetap menggunakan topi di atas kerudung ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

 

Oke. Ingat lagi pada kalimat "jangan menuntut kesempurnaan".

Setelah melalui beberapa pelan latihan kemandirian, anak-anak memang terlihat lebih mandiri..

Selasa, 07 Maret 2017

Celengan yang Pecah

Hari ini phily agak rewel. Celengan kesayangannya pecah (bahannya plastik, namun kurang kokoh) sehingga uang yang ada dalam celengan tersebut berceceran kemana-mana.

Fannan yang merasa bersalah karena dialah yang tidak sengaja menyenggol celengan tersebut pun meminta maaf pada phily dan membujuk saya untuk membelikan celengan baru.

Saya yang tadinya sedang tidak ingin keluar rumah karena tidak enak badan, mengabulkan keinginan Fannan sebagai bentuk apresiasi dari rasa tanggung jawabnya akan kesalahan yang dia lakukan.

Akhirnya kami pergi ke warung terdekat yang menjual celengan jadul ini.
Phily memilih warna hijau, persis seperti celengan sebelumnya.
Setelah kembali kerumah, Fannan berlari ke kamar menyapu uang logam Phily yang berceceran ๐Ÿ˜‚
Kemudian saya katakan "Fannan, kenapa angkutin uangnya ga pake truk aja? Biar lebih keren!"
Fannan pun bersemangat dan langsung mengambil truknya.

Setelah itu Fannan dan Phily bergantian memasukkan uang logam tersebut ke dalam celengan yang kami beli tadi.
Terdengar beberapa kali Fannan kembali meminta maaf kepada Phily "Dede, maaf ya celengannya Fannan pecahin. Kan ga sengaja".
Phily pun menjawab "He'emh".

 

Merapikan sepatu di tempat umum

Setelah satu minggu lebih menjalankan latihan kemandirian pada anak-anak, saya dihadapkan pada kebingungan harus mulai darimana lagi sedangkan skill yang sebelumnya belum rampung diajarkan.

Maka saya mengambil keputusan untuk melatih kemandirian mereka sesuai kebutuhan saja.
Kalau kemarin mengolah makanan, maka minggu ini saya fokus melatih merapikan barang-barang.

Ketika kami berkunjung ke salah satu kids corner ke tempat perbelanjaan, fannan langsung membuka sepatu sedangkan phily tidak.
Maka saya arahkan phily untuk membuka sepatunya sendiri.
Kemudian fannan meletakkan sepatunya pada rak di tempat tersebut, phily pun ikut-ikutan namun belum sempurna (ingat, harus menerima ketidaksempurnaan. proses, proses).

Fannan mengarahkan phily agar membetulkan caranya menyimpan sepatu.
"De, rapihkan sepatunya kaya punya Fannan sama Ibu".
Phily mengangguk "Iya, kakang".
Rupanya Fannan yang telah lebih dulu saya latih kemandiriannya, sekarang menjadi pelatih kecil untuk adiknya..

 

 

Kamis, 02 Maret 2017

Menyortir mainan, melatih kemandirian.

Hari ini cukup melelahkan. Anak-anak tidak merespon dengan baik saat diminta merapikan mainannya.
Namun semua lelah itu hilang saat malam hari tiba.
Salah satu hal yang bisa bikin emak-emak sumringah setelah seharian lelah dan berusaha nahan amarah salah satunya karena percakapan kaya gini:

Fannan: "Buuu, kaki fannan sakit nginjek mainan di kamar".
Saya: "Mana sayang Ibu liat, luka engga?"
Fannan: "Engga mbuu.. (terus duduk di sebelah sambil nunduk kaya yang ngerasa bersalah) Bu maafin Fannan yaa udah ga beresin mainan tadi teh".
Ibu: "Iyaa sayang.. Mau diberesin atuh yu biar ga keinjek lagi?"
Fannan: "Hayu atuh bu.. Mainan Fannan teh banyak teuing, kasihkan temen Fannan yaa sedikit. Tapi jangan semuanya"
Saya: "Yu atuh kita pisah-pisahin yang masih mau disimpen masukin keranjang putih, yang mau dikasihin masukin keranjang kuning".
Fannan: "Sip sip". (Sambil acungin dua jempol).

Beberapa intruksi Fannan saat menyortir mainannya:
"Bu, yang ini mah kecil bisi dimakan Phily. Kasihkan".
"Bu, yang ini udah ga ada kepalanya. Kasihkan".
"Bu, yang ini kan Fannan punya dua. Kasihkan".
"Bu, yang ini udah rusak. Kasihkan".

(Sepertinya Fannan belum paham kalo ngasih itu jangan barang yang sudah tidak layak pakai, tapi ga apa-apa lah setidaknya dia sudah mau berbagi ๐Ÿ˜…)
Selama menyortir mainan, Phily ikut membantu dengan bolak-balik ambil mainan yang sudah disortir dan dicampur lagi ke tempat yang belum disortir ๐Ÿ˜‚

Dan inilah hasilnya yang kata Fannan harus "dikasihkan".
Ada sebagian mainan yang saya tidak merasa membelikannya, darimana munculnya yaa? *lirik nenek* ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Membuat aturan bermain, termasuk melatih anak membereskan mainan sendiri dan membuat jadwal retensi untuk menyortir mainan adalah salah satu cara untuk melatih kemandirian anak~~

 

Senin, 27 Februari 2017

Sabar nak, bicaralah baik-baik.

"Bu baca buku enihhhhhh". Teriak phily yang kemudian menghampiri saya sambil membawa buku terbitan Sygma Publishing yang berjudul Tebak Siapakah Aku, seri favoritnya yang saya beli dari teh Elin Shabira beberapa bulan yang lalu.

Saya yang saat itu sedang mengerjakan sesuatu di dapur menjawab "Oke sayang, tunggu yaa Ibu selesein ini dulu."
Phily menggeleng "Engga."
Saya menjawab "Sabar, sedikit lagi"
Phily mulai berteriak sambil melempar buku tersebut "Enggaaaa engaaaa gaaa gaa".
Lalu mulai tantrum, menangis sambil menjatuhkan tubuh di lantai dapur ala-ala tentara yang sedang tiarap.

Saya cuek saja sambil menyelesaikan pekerjaan dapur.
Tangisan Phily semakin keras. Saya tetap pada pendirian, tidak bergeming sedikitpun. Beberapa menit kemudian tangisnya mereda meskipun masih sedikit dia improvisasi.

Setelah saya selesai dengan pekerjaan saya, saya hampiri dia dan berkata "Phily mau baca? Ibu kan tadi bilang sabar dulu, tunggu Ibu selesai."
 Phily masih sesegukan "Baca buu".
"Iya hayu baca. Lain kali kalo pengen sesuatu, ngomong baik-baik yaa." Saya memeluk dan mengusap kepalanya.
"Mbuu maaf yaa, maaf" Ucap mulut mungilnya.

Selang beberapa jam.
Fannan: "Mbuuuu mau teh manis".
Saya: "Sini sayang kita bikin bareng-bareng".
Fannan: "Engga mau, sama Ibu ajaa!" (Sedikit membentak)
Saya: "Fannan, sini. Bikin bareng-bareng atau ga ada teh manis".
Fannan: (Sambil manyun) "Ga mauu, bikinnya sama Ibu aja, sendirian".
Saya: "Oke, bye-bye teh manis".
Fannan: "Mbuuuu hayu atuh sama Fannan gulainnya".

Mengutip salah satu kalimat pada materi Melatih Kemandirian Anak di Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional.
"Di rumah ini, hanya yang berbicara baik-baik yang akan sukses mendapatkan apa yang diinginkannya".

Minggu, 26 Februari 2017

Konsisten berlatih, Meski Tubuh Medang Merasa Letih.

Hari ini Fannan dan Phily sedang kurang fit. Phily demam, Fannan pilek. Sepertinya mereka terserang virus yang sama.
Alih-alih mengajak mereka mengolah makanan, meminta mereka untuk menghabiskan makanan saja agak sulit.

Tapi, mengingat konsistensi melatih kemandirian pada mereka maka saya tidak boleh kehabisan akal.
Hari ini tetap harus ada kegiatan yang mengasah skill memasak dan merapikan barang-barang.

Fannan saya tugaskan menyiapkan penggorengan, sedangkan phily saya tugaskan untuk membersihkan tempat yang akan kami gunakan untuk makan.
Fannan minta dibuatkan nasi goreng, Phily pun ikut meminta hal yang sama.

Selama saya memasak, mereka menunggu sambil "membaca" beberapa buku.
Saat nasi goreng datang, mereka terlihat kurang antusias (mungkin karena masih tidak enak badan).
Mereka pun hanya menghabiskan beberapa suap nasi saja.
"Bu, maaf yaa nasinya ga dihabisin da fannannya cape". Kata Fannan.
"Cape Phily mah". Timpal Phily.

Oke, saya tidak mau memaksa. Sayapun menawarkan untuk mengambilkan minuman pada mereka, dan Fannan memilih mengambil minumnya sendiri.
Setelah itu mereka saya ingatkan untuk menyimpan piring kotor ke bak cuci.
Mereka lalu mencuci tangan dan kembali ke kamar, minta dibacakan beberapa buku. Kamipun berbaring sambil membuka beberapa buku, karena bukan hanya Fannan dan Phily, hari ini sayapun merasa agak kurang sehat..

Sabtu, 25 Februari 2017

Fannan VS Tempe, Phily VS Buku

Hari ini Fannan dan Phily agak rewel sejak bangun tidur.
Ada saja permintaan aneh yang membuat saya kehilangan kata-kata.
Seperti Fannan memakai baju yang saya siapkan untuk Phily, lalu Phily yang kesal mengambil baju yang saya siapkan untuk Fannan dan kemudian memakainya.
Jadilah baju Shaun the Sheep dikenakan Fannan, dan baju Cars dikenakan Phily.
Ini karena awalnya baju Shaun the Sheep ungu tersebut memang milik Fannan, namun karena sudah agak kecil maka saya alihkan kepemilikan pada Phily (diwarisin gitu lah wkwkwk).

Lanjut saat saya mengajak mereka untuk memasak. Fannan antusias sedangkan Phily yang awalnya ikut colak colek hanya melihat saja.
Saya mengajak mereka memotong tempe lalu membumbuinya.
Fannan meminta ijin ke kamar mandi sebentar.  Fannan memang sudah mampu ke kamar mandi sendiri untuk buang air kecil. Sedangkan Phily belum.

Sekembali dari kamar mandi, Fannan mulai berulah lagi. Dia hanya mau memakai celana dalam karena celana yang dikenakannya tadi dia letakkan di kamar mandi dan terjatuh ke lantai.
Akhirnya saya yang tidak enak badanpun menyerah dan membiarkannya melanjutkan membumbui tempe.


 

Setelah itu kami menggoreng tempe tersebut dan mengolah makanan lainnya. Namun tidak sempat saya abadikan momennya dikarenakan baterai handphone habis saat itu.

Siang hari Fannan tertidur pulas, namun Phily tidak.
Phily minta dibacakan beberapa buku. Sayapun mengiyakan.
Selesai membaca buku, saya membimbing Phily untuk merapikan buku-buku yang tadi dia minta untuk saya bacakan.
Phily setuju, meskipun hasilnya masih belum rapi yang terpenting adalah kemauannya merapikan barang yang telah selesai digunakan.

 
 

Jumat, 24 Februari 2017

Membuat agar-agar sendiri, Melatih Kemandirian Part 1

Sesi kedua kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional memyuguhkan materi yang luar biasa menguras pikiran saya untuk mempraktekkannya.
Kemandirian anak. Selama ini saya dan suami berusaha mengajarkan kemandirian pada anak-anak. Namun hasilnya kadang jauh dari  harapan. Kami pikir kami kurang fokus, terlebih lagi kurang sabar dan konsisten dalam melakukannya.
Namun sekarang kami menyadari bahwa yang terpenting adalah proses, karena saat melihat anak-anak bersungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu yang baik, kami merasa sangat bahagia..

One Skill One Week adalah tugas dari kelas Bunda Sayang kali ini yang sukses membuat saya berpikir keras akan mengajarkan skill apa pada anak-anak selama tiga minggu kedepan, sementara skill tersebut diusahakan agar mampu meningkatkan kemandirian anak-anak?

Oke. Karena skill yang harus diajarkan maksimal adalah empat skill selama tiga minggu, maka saya akan mengajarkan tiga skill tetap setiap minggunya, dan satu skill secara rutin  di setiap harinya.

Skill yang akan saya ajarkan secara rutin setiap hari adalah membereskan barang-barang pribadi. Karena ini berkaitan erat dengan segala aktifitas anak-anak setiap harinya. Semoga dengan kemampuan mereka membereskan barang-barang pribadi secara rapi dan penuh tanggung jawab, kelak merekapun akan memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang lebih besar secara rapi dan bertanggung jawab pula.

Untuk tiga skill selanjutnya, dimulai dengan skill memasak pada minggu pertama. Skill mencuci pada minggu kedua. Dan skill ketiga yang masih dalam tahap pertimbangan.

Fannan sudah mulai saya ajak mengenal bahan makanan dan cara pengolahannya sejak bayi, karena kemanapun saya pergi dan apapun aktifitas yang saya lakukan waktu itu, fannan harus selalu digendong termasuk saat saya memasak.
Alhasil fannan terbiasa untuk membantu saya mengolah makanan. Namun kali ini, sambil saya mengajarkan pada phily cara mengolah bahan makanan, sayapun akan membiarkan fannan mencoba memasak makanannya sendiri.

Hari pertama, kaami membuat agar-agar untuk cemilan fannan dan phily.
Awalnya fannan minta dibuatkan agar-agar. Lalu saya mengajak fannan dan phily untuk membuatnya bersama-sama.

Mulai dari memilih panci. Fannan memilih menggunakan panci untuk merebus mie. Saya sudah beri tahu bahwa itu panci khusus untuk merebus mie tapi fannan bersikeras ingin menggunakan panci tersebut. Oke, saya iyakan.
Kemudian memasukkan serbuk agar-agar dan gula. Phily memperhatikan dan sesekali membantu menyendok gula

 

Mencampurkan air. Gelasnya phily yang pilih kali ini. Gelas kesayangannya, si hello kitty.
 

Mengaduk adonan agar-agar diatas kompor (abaikan dapurnya yang berantakan karena kekurangan lahan, ceritanya DIY ala-ala wkwkwk).
Semangat sekali yaa nampaknyaa ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚
 

Lanjut bantu ibu masak bubur untuk Ayah yang sedang sakit.
 

Agar-agar yang sudah jadi lupa tidak terfoto dikarenakan ada kondisi suami yang sedang sakit memburuk dan membuat kami harus tetirah dulu dirumah mertua selama satu hari.

Semoga kebiasaan fannan dan phily dalam mengolah makanan mereka sendiri sejak dini dapat membentuk pribadi yang mandiri di kemudian hari.


Kamis, 16 Februari 2017

Komunikasi Produktif, Bahasa Cinta Keluarga

Komunikasi adalah hal yang tak pernah sedetikpun bisa lepas dari diri manusia. Sejak kita lahir, hal pertama yang dilakukan adalah menangis bukan? Iya, menangis!
Menangis adalah salah satu bentuk komunikasi yang pada umumnya dilakukan oleh bayi baru lahir.
Ketika lapar, bayi menangis. Ketika haus, bayi menangis. Ketika merasa sakit ataupun tidak nyaman, bayi menangis. Apapun yang bayi inginkan, mereka akan menangis.

Seiring berjalannya waktu, bayi akan tumbuh menjadi seorang balita kritis yang sering melontarkan pertanyaan. Dari mulai "Apa ni?" Sampai "Bu, kenapa Ibu nangis?" Atau "Bu, buat apa sih kita shalat?"
Para balita itupun kadang  senang mengekspresikan perasaan mereka dengan bahasa komunikasi yang unik. Misalnya tantrum. Hehehe

Menginjak remaja cara mereka berkomunikasi semakin variatif, bahasa cinta mereka semakin sulit dimengerti. Sebagian orang tua kadang tertipu, mereka pikir anak mereka nakal padahal mungkin itu cara mengkomunikasikan bahwa mereka ingin diperhatikan.

Setelah dewasa dan memiliki pasangan, cara manusia berkomunikasi bertambah cabangnya. Disini kadang muncul komunikasi paling horror yaitu diam. Iya, diampun adalah bentuk komunikasi. Saat dimana seseorang ingin mengatakan bahwa dirinya sedang sangat marah atau bahkan sudah terlalu lelah dengan suatu permasalahan, maka ada yang mengkomunikasikannya dengan diam.

Lalu, apakah semua bentuk komunikasi yang dilakukan oleh manusia itu bisa dibenarkan? Tentu saja tidak. Apalagi saat berkomunikasi dengan keluarga, sebuah organisasi terkecil yang kelak akan dimintai Laporan Pertanggung Jawabannya di akhirat sana, kita harus berkomunikasi dengan baik.

Maka saya merasa sangat beruntung bisa bergabung dengan Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional. Materi pertama yang saya dapat adalah mengenai Komunikasi Produktif. Alhamdulillah, materi ini datang di saat yang tepat!
Materi ini disajikan saat saya dihadapkan dengan peran sebagai seorang individu yang merupakan istri dari seorang suami yang bersamanya saya memiliki dua orang buah cinta yang selalu kami upayakan agar menjadi anak yang shaleh dan shaleha.

Menikah adalah hal yang mudah. Namun mempertahankan pernikahan adalah hal yang sangat menantang.
Bertemu dengan orang yaang sama setiap hari, ada tuntutan untuk berbicara mengenai banyak hal dengannya meskipun terkadang sedang tidak ingin. Ada masa depan yang harus dibangun, ada anak-anak yang harus dididik, ada syurga yang harus digapai.
Lalu saat berbicara, feedbacknya tidak sesuai harapan. Bagaimana rasanya? Jleb sekaliiiiii!

Kemudian anak. Hal tersulit dalam menjaga amanah ini bukanlah saat mengandungnya selama sembilan bulan, ataupun melahirkannya dengan mempertaruhkan jiwa dan raga.
Hal tersulit dalam "memiliki" amanah ini adalah mendidiknya.
Pendidikan dan kurikulum terbaik yang sudah disiapkan pun tidak akan bisa dijalankan dengan baik jika komunikasi antara pemberi pesan (orang tua) dan penerima pesan (anak) tidak berjalan dengan lancar.

Dan untuk semua itu diperlukan kontrol emosi yang baik, dimulai dari mengkomunikasikan hal-hal positif pada diri kita sendiri. Percaya bahwa kita bisa, hal-hal sulit adalah menarik dan semua masalah adalah tantangan yang menyenangkan.

Setelah mengikuti dan mempraktekkan komunikasi produktif dalam kehidupan sehari-hari, akhirnya saya paham bagaimana cara berkomunikasi yang baik dengan diri sendiri, pasangan maupun anak. Meskipun dalam prakteknya butuh tekad dan latihan yang sangat keras namun saya tidak akan menyerah karena kebiasaan baik itu perlu pembiasaan.
Pada akhirnya sayapun paham bahwa komunikasi produktif membuat kita lebih mudah dalam mengutarakan sesuatu, memperjelas maksud dan memperbesar kemungkinan keberhasilan komunikasi itu sendiri. Karena tanpa harus berteriak, anak akan mendengar. Tanpa harus mengomel, suami akan paham, dan tanpa harus mengeluarkan banyak tenaga (untuk marah-marah) seorang wanita akan lebih mengelola emosinya.
Maka dapat saya katakan bahwa komunikasi produktif adalah bahasa cinta. Dalam hal ini, bahasa cinta keluarga..